Sepertinya mereka bertengkar karena si perempuan merasa si laki-laki tidak cukup bertanggung jawab dan si laki-laki merasa si perempuan terlalu kaku, kritis, atau terlalu terorganisir. Tetapi kenyataannya, kita hampir tidak pernah bertengkar karena alasan yang kita pikirkan. Biasanya, alasan sebenarnya tersembunyi jauh lebih dalam di dunia bawah sadar kita. Sebagian besar alasan tersebut berasal dari masa lalu kita.
Pengamatan dan penelitian saya menunjukkan bahwa semua perkelahian dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok besar.
1. Memperebutkan Cinta dan Perhatian
Hal ini dapat diungkapkan sebagai “Aku kesepian, aku merindukanmu,” atau “Aku tidak merasa dicintai, tunjukkan padaku bahwa kau peduli.” Cinta, perhatian, dan penerimaan adalah beberapa kebutuhan psikologis kita yang paling kuat. Namun, apa yang kita ketahui tentang ekspresi cinta berasal dari keluarga asal kita. Jika orang tua kita disfungsional, maka cara mereka menyampaikan cinta dan perhatian mereka juga disfungsional.
Dan inilah yang KITA ketahui SEKARANG tentang cinta dan perhatian. Misalnya, jika tidak ada yang memperhatikan kita saat masih kecil ketika kita “berperilaku baik,” kita terkadang akan berperilaku buruk untuk mendapatkan perhatian. Mungkin sulit dipercaya, tetapi kita terus melakukan hal yang sama bahkan setelah kita dewasa. Kita mengamuk. Pada wanita, hal itu seringkali berupa “mengomel” atau mengeluh. Pada pria, mungkin berupa mengabaikan pasangan, berperilaku buruk dengan cara lain, atau menarik diri.
Pada dasarnya, yang kita katakan adalah: “Buktikan padaku bahwa kamu akan mencintaiku bahkan ketika aku jahat dan tidak pantas dicintai.” Jika pasangan kita tidak mendengar permohonan kita, kita mulai meningkatkan “perilaku buruk” kita sebagai orang dewasa dan tak lama kemudian pertengkaran akan terjadi.
2. Pertentangan Harapan dan Asumsi
Masa lalu kita membentuk siapa kita sekarang dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain dan dunia. Kita mengharapkan segala sesuatu berjalan dengan cara tertentu. Kita “tahu” (atau begitulah yang kita pikirkan) apa yang dipikirkan pasangan kita, apa yang mereka rasakan, bagaimana mereka harus berperilaku, bagaimana mereka harus memperlakukan kita, apa arti keluarga, peran apa yang harus dimainkan setiap orang, dan sebagainya. Kita punya pendapat tentang segala hal! “Pendapat itu seperti hidung, setiap orang punya satu,” kan?
Jika kita cukup dewasa dan berpengalaman, dan kita telah belajar bahwa tidak selalu ada satu cara untuk berada di dunia atau satu cara untuk melakukan sesuatu, maka kita dapat lebih menerima dan terbuka terhadap perilaku pasangan kita. Memahami hal ini dapat membuat transisi menuju kehidupan bersama jauh lebih mudah dan lancar.
Namun, jika kita tidak pernah memeriksa asumsi kita tentang segala hal, tidak pernah menganalisis dan menyadari harapan kita, maka kita mungkin akan mendapat kejutan besar dan mungkin mendapati diri kita berada di perahu yang sama dengan seseorang yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Dalam kasus ini, pasangan dapat mulai bertengkar karena hal-hal yang paling sepele. Siapa yang mencuci piring, siapa yang memasak, siapa yang tinggal di rumah mengurus anak-anak, apa yang diharapkan dari seorang istri, apa yang diharapkan dari seorang suami, bagaimana merayakan hari libur, kapan mengunjungi orang tua, apakah pergi ke gereja pada hari Minggu, dan seterusnya. Daftar ini terus berlanjut. Masing-masing pasangan berpikir bahwa sudut pandangnya benar dan sudut pandang orang lain salah. Padahal, tidak ada yang benar atau salah, tetapi hanya melihat sesuatu dengan cara tertentu.
3. Pertarungan yang Penuh Rasa Sakit dan Ketakutan
Pertengkaran ini mungkin yang paling sulit ditangani. Pertengkaran ini terjadi ketika salah satu atau kedua orang memiliki luka akibat ditinggalkan, ditolak, atau trauma masa lalu. Perilaku apa pun yang sedikit saja mengingatkan kita pada kemungkinan terluka dapat memicu reaksi yang kuat dan intens. Misalnya, seorang suami terlambat pulang kerja dan tidak menelepon istrinya yang memiliki riwayat ditinggalkan. Setelah beberapa saat, istrinya menjadi gelisah dan cemas. Jika hal itu berlangsung lama dan dia tidak dapat menghubunginya, suaminya mungkin akan bertengkar hebat ketika sampai di rumah. Tetapi alasan sebenarnya dari kemarahannya adalah ketakutan yang mendalam akan kehilangan suaminya.
Bagi banyak pria, pemicunya bisa berupa kurangnya hasrat seksual dari istri mereka. Mereka mungkin merasa tidak dicintai, tidak menarik, tidak diinginkan, dan ditolak. Bagi banyak pria, rasa takut akan penolakan berubah menjadi kemarahan.
Bagi banyak wanita, pemicunya adalah kurangnya perhatian, atau kurangnya hubungan yang bermakna dengan pasangannya. Ia mungkin mulai merasa kesepian dan tidak diinginkan, lalu memulai pertengkaran hanya untuk memastikan bahwa dirinya penting, bahwa ia tetap berarti bagi pasangannya.
Apa yang harus dilakukan dengan semua ini?
Oke, semua ini keren dan menarik, tetapi Anda mungkin bertanya-tanya – apa yang harus saya lakukan dengan informasi ini?
Oke, sekarang bagian praktisnya.
Langkah Pertama – Lepaskan diri saat emosi mulai memuncak
Langkah terpenting dalam mengurangi jumlah dan intensitas pertengkaran adalah belajar bagaimana MENGHENTIKAN pertengkaran ketika emosi meluap . Anda lihat, ketika kita marah, terluka, atau kesal, kita cenderung membalas dengan cara yang sama. Pasangan kita menjadi defensif dan membalas dengan cara yang sama. Apa yang dimulai sebagai ledakan emosi singkat dengan cepat berkembang menjadi pertengkaran besar, yang seringkali buruk. Terkadang orang mengatakan hal-hal yang sangat jahat dan menyakitkan ketika mereka marah dan terluka. Hal-hal menyakitkan ini membekas di jiwa kita untuk waktu yang lama setelah pertengkaran berakhir. Dan setiap kali itu terjadi, luka semakin dalam, jurang antara pasangan semakin lebar, dan kebencian semakin tumbuh.
Itulah mengapa sangat penting untuk belajar bagaimana melepaskan diri saat kita merasakan lonjakan emosi. Penting untuk menemukan cara yang cocok untuk Anda. Bicaralah satu sama lain, bereksperimenlah dengan berbagai pilihan (saat TIDAK SEDANG BERTENGKAR!!!). Dengan latihan, pasangan dapat menemukan cara untuk memberi tahu satu sama lain bahwa mereka membutuhkan “waktu istirahat” yang penting. Kemudian, setelah Anda beristirahat dari satu sama lain (bahkan jika itu di ruangan yang berbeda) – rawat emosi dan perasaan Anda dan tenangkan diri Anda. Beberapa metode pengaturan diri (seperti pernapasan dalam dan lambat, misalnya) dapat sangat membantu di sini.
Langkah Kedua – Menjernihkan suasana
Langkah kedua adalah “menjernihkan suasana.” Setelah emosi mereda dan kedua pasangan tenang, sangat penting untuk duduk bersama dan mencari tahu apa sebenarnya penyebab pertengkaran ini. Jika kedua pasangan memiliki sikap terbuka, mau mencari tahu, dan berniat baik, mereka benar-benar dapat mencoba untuk mendengarkan dan memahami satu sama lain (tidak hanya kata-kata, tetapi juga perasaan di balik kata-kata). Dalam hal ini, alih-alih pertengkaran ini memisahkan mereka, pertengkaran ini dapat menjadi peristiwa yang mempersatukan dan pasangan dapat menjadi lebih dekat. Pada akhirnya, keintiman berarti menjadi rentan dan terbuka satu sama lain. Belajarlah untuk berbicara dan mendengarkan satu sama lain.
Pada tahap ini, sangat penting untuk mencapai titik di mana kedua pasangan merasa telah didengarkan, dipahami, dan tidak ada lagi perasaan negatif yang tersisa.
Bagi sebagian besar orang, mempelajari dan mempraktikkan dua langkah ini sudah cukup untuk menghentikan sebagian besar pertengkaran. Namun, bagi kita yang berasal dari keluarga yang sangat disfungsional dan/atau penuh kekerasan, langkah-langkah ini mungkin sulit diterapkan. Dalam kasus ini, bantuan dari terapis pasangan atau pernikahan yang berpengalaman mungkin bermanfaat.