kekerasan

Satu dari tiga pria Australia mengaku melakukan kekerasan terhadap pasangannya, menurut penelitian terkemuka dunia.

Studi Ten to Men yang dilakukan Australian Institute of Family Studies merupakan studi terbesar dalam jenisnya.

Pada tahun 2013-2014, lembaga ini mulai memantau sekitar 16.000 anak laki-laki, dan satu dekade kemudian menambahkan 10.000 pria lagi ke dalam penelitian. Kekerasan pasangan intim atau IPV didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan emosional.

Saat pertama kali disurvei pada tahun 2013-2014, sekitar satu dari empat pria melaporkan pernah menggunakan IPV, dan jumlah ini meningkat menjadi satu dari tiga dari kelompok pria yang sama pada tahun 2022.

Kekerasan emosional merupakan bentuk KDRT yang paling umum, dengan 32 persen pria pada tahun 2022 mengatakan bahwa mereka telah membuat pasangan intimnya merasa “takut atau cemas”.

Laki-laki yang mengalami depresi sedang atau berat memiliki kemungkinan 62 persen lebih besar untuk menunjukkan KDRT pada tahun 2022, dibandingkan dengan laki-laki yang tidak memiliki gejala-gejala tersebut.

Namun penelitian tersebut juga menemukan bahwa pria yang mendapatkan dukungan sosial kuat dan hubungan ayah-anak yang penuh kasih sayang cenderung tidak melakukan kekerasan terhadap pasangannya.

Laki-laki yang melaporkan tingkat dukungan sosial yang tinggi, 26 persen lebih kecil kemungkinannya untuk melaporkan penggunaan IPV.

Mereka yang merasa memiliki hubungan berkualitas dengan ayah atau figur ayah semasa kanak-kanak, ditandai dengan kasih sayang, memiliki kemungkinan 48 persen lebih kecil untuk melaporkan melakukan KDRT.

Lembaga Studi Keluarga Australia mengatakan pihaknya berharap temuan studi ini akan mendorong pemerintah negara bagian dan federal untuk mengatasi KDRT.

“Kumpulan data unik ini, yang diikuti para pria selama periode sepuluh tahun, mengonfirmasi besarnya masalah tersebut,” kata direktur lembaga tersebut, Liz Neville.

“Dengan perkiraan 120.000 pria mulai menggunakan kekerasan pasangan intim setiap tahun di seluruh Australia, kita dapat melihat lebih jelas bagaimana penundaan dalam intervensi yang efektif dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan.”

Menteri Pelayanan Sosial Tanya Plibersek mengatakan temuan itu mengkhawatirkan, tetapi tidak mengejutkan.

“Sangat penting bagi kita untuk mencermati faktor-faktor yang dapat memicu kekerasan sehingga kita dapat memastikan bahwa kita mendanai program-program yang dapat menghentikannya sejak dini,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *